Bali Clean

Bali Green… because green, is not just a color…

Pelebon Puri Ubud 8 Mei 2016

| 0 comments

13164405_10207243153091840_4170130663632469920_n

Gianyar, baliclean.dumbstrack.org – Pulau Bali yang eksotis mendapatkan julukan “Pulau dewata, Pulau seribu pura, Pulau Surga” menarik perhatian wisatawan baik domestik atau mancanegara sampai sekarang. Setiap objek wisata yanga ada di Pulau Bali dikelola secara baik dan professional. Hal itulah yang membuat pariwisata Bali tetap naik secara signifikan. Apalagi, keberadaan “puri” (tempat tinggal bangsawan/keluarga raja) yang masih ada saat ini menjadi fenomena menarik untuk dipelajari. Kuatnya pembagian triwangsa atau “kasta” masih dipegang oleh masyarakat Hindu Bali, menjadikan “puri” menjadi panutan masyarakat dalammelakukan ajaran agama Hindu. Perlu diketahui, bahwa kalangan puri yang banyak ditempati wangsa ksatria yang merupakan kasta tinggi dalam masyarakat Hindu Bali sangatlah dihormati. Ritual sakral puri yang paling menarik dan menjadi objek wisata adalah ritual pelebon/kremasi (pembakaran mayat)keluarga Puri Agung Ubud, Gianyar – Bali

Prosesi Pelebon Agung ini juga disaksikan ribuan warga dan juga wisatawan yang berjejer disepanjang jalan Utama dari Catus Pata Ubud menuju Setra Pura Dalem Puri  menyaksikan keindahan budaya yang dimiliki Indonesia dari dekat, bahkan prosesi pelebon ini dijadikan atraksi budaya yang bisa dinikmati oleh warga sekitar dan juga wisatawan. Tak jarang wisatawan dan para photografer mengabadikan moment langka ini, bahkan ada yang sampai memanjat pohon dan naik di atap rumah penduduk. Pelebon Agung juga dihadiri Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta, jajaran Pangdam IX Udayana, jajaran SKPD Kabupaten Gianyar, Kapolres Gianyar, AKP Farman, tokoh Puri se-Bali, tokoh masyarakat serta ribuan warga sekitar yang turut membantu pelaksanaan pelebon.

Ribuan warga iringi Pelebon Agung Almarhum Cokorda Putra Widura (34) asal Puri Saren Kauh Kelurahan/Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar, Minggu (8/5). Rangkaian Pelebon Agung alm Cokorda Putra Widura diawali dengan upakara Nyiramin (6/5), Ngaskara (7/5) dan upacara perabauan jenasah pada Redite Pon Wuku Prangbakat (8/5). Jenasah diberangkatkan ke Setra Dalem Puri dari Puri Saren Kauh Ubud pukul 12:30 Wita dengan mengunakan Bade Tumpang Sembilan (tingkat 9). Bade setinggi 21 Meter dengan bobot delapan Ton tersebut diusung ratusan warga secara bergantian menuju Setra Dalem Puri yang jaraknya sekitar 1 Km. Bade dibuat atas arahan undagi Tjokorda Gde Raka Sukawati alias Cok De tokoh asal Puri Saren Ubud. Prosesi juga diawali dengan Mlaspas Bade dan Lembu yang dipuput dua Sulinggih, yakni Ida Pedanda Putra Ngenjung asal Gria Duda Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem dengan Ida Pedanda Budha asal Gria Gunung Sari Peliatan Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar.

20160508-760

Prosesi pemberangkatan jenasah ke Setra Dalem Puri diawali dengan menaikan jenasah ke Bade tumpang sembilan diiringi tabuh Angklung, iringan bandrangan, tedung, Bungan Jaja yang diusung warga asal Banjar Kebon Desa Kedisan Kecamatan Tegallalang. Iringan berikutnya merupakan pengusungan tempat pembakaran jenasah berupa Lembu Selem seberat 1 ton dengan panjang 2,25 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 6 meter yang dikerjakan Tjokorda Ngurah Suyadnya alias Cok Wah. Lembu ini diusung warga asal Banjar Ubud Tengah, Taman Klod dan Desa Pakraman Payogan yang mengusung secara begantian.

Sedangkan Bade Tumpang Sembilan diusung warga Banjar Ubud Klod, Banjar Ubud Kaja, Banjar Sambahan, dan Desa Pakraman Bentuyung-Sakti Kecamatan Ubud. Acara Nyupit /Pengiriman ring Setra Dalem Puri Peliatan, Pemuput Ida Pedanda Gede Manuaba Griya Peling Baleran lan Ida Pedanda Budha Griya Santrian Peliatan.

Selain itu, juga menggunakan Lembu Selem seberat 1 ton. Dua sarana ini diangkat ratusan warga mulai dari depan Puri Agung Ubud (Catus Pata Ubud) menuju Setra Dalem Puri yang jaraknya sekitar 1 Km. Almarhum Cokorda Putra Widura diketahui lebar (meninggal dunia), 7 Maret 2016 malam sekitar pukul 22.30 Wita, dalam perawatan di RS Bros, Denpasar. Putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Cokorda Gede Indrayana dan Cokorda Istri Rai Darma Wati ini berpulang buat selamanya akibat penyakit asma akut. “Pelebon ini merupakan Pelebon Agung dengan bersaranakan Bade setinggi 21 meter, serta Lembu Selem seberat 1 ton, mengingat Cokorda Putra Widura merupakan cucu tertua dari Panglingsir Puri Agung Ubud, almarhum Tjokorda Agung Suyasa. aRd

Leave a Reply