Bali Clean

Bali Green… because green, is not just a color…

BALI KU KAN MENANGIS BILA TAK ADA YANG PEDULI

| 0 comments

BALI dipastikan akan menghadapi masalah kependudukan. Prediksi terbaru menyebutkan, tahun 2015 nanti penduduk Bali akan tembus 5 juta orang. Di balik tingginya laju pertambahan penduduk Bali, ternyata infrastruktur, termasuk antisipasi kebutuhan ruang, energi dan persediaan pangan tak dilakukan secara matang. Fakta ini tentunya harus membuat Pemprov Bali dan kabupaten/kota melakukan pengendalian laju pertumbuhan penduduk.

Berdasarkan angka sementara hasil pendataan Sensus Penduduk 2010 (SP2010), jumlah penduduk Provinsi Bali tercatat 3.891.428 jiwa, terdiri dari 1.961.170 laki-laki dan 1.930.258 perempuan. Sebaran penduduk Bali masih terkonsentrasi di Kota Denpasar yakni sebesar 20,26 persen, dan Kabupaten Buleleng sebesar 16,04 persen. Sementara kabupaten lainnya antara 4 persen hingga 14 persen. Kedatangan penduduk pendatang ke Bali per tahun saat ini mencapai sekitar 25.000 jiwa. padahal dari segi daya dukung dan daya tampung, Bali hanya mampu mendukung kehidupan penduduk sekitar 1,5 juta jiwa.

Membicarakan keamanan Bali saat ini, lupakanlah masa-masa masih tertanam kuatnya tradisi karmaphala bagi pencuri. Di era 1970-an hingga 1980-an seseorang bisa saja meninggalkan barang miliknya di sembarang tempat tanpa harus khawatir hilang. Namun, sejak Bali mulai terus berkembang menjadi pulau metropolis karena diserbu pendatang dari luar Bali, saat itulah tingkat keamanan mulai menurun drastis. Pendatang resmi, setengah resmi hingga liar datang dengan budayanya yang sering cenderung kurang memperhatikan etika dan norma tempat kakinya kini berpijak. Selain itu, pengebirian peran desa adat dengan adanya desa dinas adalah salah satu pangkal dimulainya reduksi peran swadaya dan swakarsa penjaga masih-masing wilayah desanya. Desa adat di Bali, di wilayah perkotaan pun, harus diakui sejak 1990-an juga mulai kehilangan kemampuan deteksi dan identifikasi terhadap masuknya pendatang. Dengan alasan sungkan, seringkali klian banjar mulai enggan mewajibkan pendatang melakukan pendataan dan pelaporan dirinya. Puncak dari keengganan ini dapat kita lihat dari peristiwa bom Bali yang sempat menghanguskan citra Bali sebagai satu-satunya sebuah tempat teraman di Indonesia.

Berkaca pada ulasan diatas siapa kah yang harus berperan menjaga bali dan siapa yang harus dipersalahkan jika sudah terjadi seperti saat ini? Tidakan apa yang seharusnya kita lakukan ? apakah kita harus mengusir kaum pendatang! Tidak mungkin karena tingginya pendapatan suatu daerah tergantung juga dari pihak pendatang tersebut. Lalu apa yang kita harus lakukan untuk tetap eksis ditanah kelahiran kita dan tetap menjaga bali tercinta?

Kenapa kita tidak memperkuat sistem kita yaitu desa dinas yang melaksanakan tugas pemerintahan berdasar peraturan perundangan Republik Indonesia, dan ada desa adat yang melaksanakan hukum adat Bali, yang disebut awig-awig. Awig-awig juga hanya berlaku di sekitar desa atau banjar, yang berarti untuk setiap desa atau banjar perlu dipelajari dulu apa isi awig-awig-nya. Sungguh menarik untuk mengetahui, bahwa bisa terjadi beberapa desa dinas meliputi beberapa desa adat, atau sebaliknya, beberapa desa adat meliputi beberapa desa dinas. Tidak ada konflik antara kedua jenis desa ini, karena desa dinas hanya membidangi masalah pemerintahan, sedangkan desa adat hanya membidangi masalah adat, yang sudah jadi satu dengan agama. Awig-awig, pada dasarnya merupakan hukum tak tertulis dalam hal ini hukum yang tidak dibuat oleh lembaga atau pejabat negara yang berwenang. Awig-awig dibentuk oleh kesatuan masyarakat hukum adat yakni produk hukum dari kesatuan masyarakat adat. Namun, dalam perkembangannya dipandang perlu untuk menyuratkan awig-awig dalam bentuk yang tertulis. Hal itu antara lain bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dan sebagai dokumentasi hukum adat. Kita ketahui bersama bahwa struktur pemerintahan adat, norma/adat istiadat dan keyakinan agama, dilakukan oleh masyarakat Bali secara bersamaan yang sangat mewarnai kehidupan sehari-harinya.

Semua pernyataan jauh panggang dari api! Semau orang hidup, makan, tidur disuatu daerah tanpa peduli lingkungan sekitar kita, mana semboyan “Dimana Bumi dipijak Disana Langit dijunjung” seharusnya Pemerintah , masyarakat dan pemuka agama ikut peduli dan bertanggung jawab dengan masalah ini, misalnya kita hidup dan bekerja di denpasar, tapi kita masuk desa adat dikampung halaman, apa itu benar ?

Kami segelintir orang yang peduli bali mengajak orang-orang bali dan orang-orang luar peduli bali untuk ikut menjaga dan melestarikan bali.

Leave a Reply