Bali Clean

Bali Green… because green, is not just a color…

July 23, 2016
by aRd Numb
0 comments

“NGABEN” – DARI TRADISI MENJADI ATRAKSI WISATA BUDAYA

20160716-3486Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka

Secara filosofis, makna Upacara Ngaben yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya adalah sebagai proses untuk mempercepat pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya atau ke sumbernya masing-masing.

Terkadang di tengah masyarakat terdapat pemahaman yang kurang sesuai dengan sastra agama, mengenai hakikat dan tujuan dari Upacara Ngaben tersebut. Sering pelaksanaan Ngaben diterjemahkan secara keliru, yaitu untuk mencarikan tempat roh para leluhurnya di Sorga

Jika dikembalikan kepada hakikat Ngaben secara filosofisnya, seperti diuraikan di atas, maka sebenarnya Upacara Ngaben tidak bisa dikaitkan dengan pencapaian sorga ataupun neraka. Masalah sorga dan neraka adalah persoalan lain dari Upacara Ngaben. Sebab itu ditentukan oleh sisa hasil perbuatan di waktu hidupnya (karma wasana) seseorang. Hukum Karmaphala salah satu kepercayaan Agama Hindu menggariskan bahwa karma baik maupun karma buruk tidak bisa dikurangi, dan harus diterima seutuhnya

Menurut ajaran Agama Hindu, melaksanakan Upacara Ngaben untuk para leluhur adalah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali. Dalam praktiknya tidak semua masyarakat bisa menjalankan kewajiban tersebut karena berbagai faktor. Salah satu dari faktor tersebut adalah mahalnya biaya Upacara Ngaben itu sendiri. Mahalnya biaya Upacara Ngaben tidak terlepas dari adanya hegemoni yang dilakukan oleh golongan masyarakat kaya, melalui tradisi Ngaben secara besar-besaran. Perubahan tradisi dalam hal pelaksanaan Upacara Ngaben, yang telah diterima oleh masyarakat adalah ketika Desa Pakraman, melakukan Ngaben Massal sebagai alternatif untuk menanggulangi mahalnya biaya Ngaben tersebut.

20160716-3384

Seperti namanya ngaben masal dilakukan secara bersama-sama dengan banyak orang. Di masing-masing desa di Bali biasanya mempunyai aturan tersendiri untuk acara ini. Ada yang melakukan setiap 3 tahun sekali, ada juga setiap 5 tahun dan mungkin ada yang lainnya.

Ngaben massal bisa dikatakan bukan tradisi baru di kalangan orang Bali. Dulu, raja-raja atau keluarga puri kerap menggelar ngaben bersama melibatkan masyarakat pendukung atau puri. Namanya ngaben ngiring. Biaya upacara biasanya ditanggung pihak puri, sedangkan warga yang ikut hanya ngayah menyelesaikan sarana upakara. Atau, warga yang ikut dikenai biaya yang cukup murah.

Hingga kini, tradisi ngaben ngiring masih berlanjut. Di Klungkung, tradisi semacam ini malah paling sering dilaksanakan. Keluarga puri di Badung, Denpasar, Ubud, Gianyar, puri-puri lain serta griya juga masih memelihara tradisi ngaben ngiring.

Namun, tak sedikit juga yang enggan mendapat label ngiring. Banyak warga yang kemudian menggelar ngaben massal dengan dikoordinir banjar atau soroh (klan) tanpa peran sentral dari pihak puri atau griya.

“Ngaben” Sebagai Salah Satu Atraksi Wisata Budaya Di Bali

Pulau Bali adalah salah satu propinsi yang berpotensi dibidang pariwisata di Indonesia sudah sejak lama. Pulau Bali yang mungil nan indah ini memiliki alam yang indah, berupa pantai, pegunungan dan juga danau. Dan disamping itu, Pulau Bali juga memiliki kebudayaan yang unik, serta masyarakat yang ramah dan bersahabat. Kebudayaan daerah merupakan asset yang cukup penting bagi pengembangan kepariwisataan di Indonesia. Hal ini dikarenakan kebudayaan nasional kita merupakan puncak-puncak dari kebudayaan daerah yang dapat dijadikan asset bagi pengembangan sektor pariwisata. Kepariwisataan di Pulau Bali masih perlu ditingkatkan agar tetap menjadi primadona negeri ini, bahkan primadona di seluruh dunia.

20160716-3430

Sebagai contoh:

Pelebon di puri ubud dan ngaben massal desa pekraman Ubud , Wisatawan baik domestik maupun manca Negara datang untuk menyaksikan kegiatan ini. Roda perekonomian pada saat itu mengalir bagaikan luapan air sungai. Rupiah dan dollar silih berganti saling bertukaran.

Semoga dengan adanya pariwisata yang dimiliki masyarakat Bali mampu meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat. Masyarakat hendaknya mampu bijaksana dalam melaksanakan upacara, bukan kwantitas dan jor-joran yang diperlihatkan tetapi kwalitas dari upacara tersebut yang diutamakan.